By - - 0 Comments

Pada Tasqif pekan ini, hari Sabtu tanggal 4 Mei 2013, UKI Jashtis mengundang seorang Ustadz sekaligus Dosen di STMIK Amikom Yogyakarta, kemampuan penyampaian beliau sangat luar biasa, beliau membawakan materi dengan penuh semangat, alur yang digunakan sangat sistematis, dan mengemasnya agar dapat dimengerti oleh orang lain, beliau adalah Bapak Mulyadi Erman, S.Ag., M.A, mari kita simak rangkuman materi yang disampaikan beliau.

Allah menciptakan manusia untuk saling berinteraksi dengan yang lain, melalui proses ini, akan terjadi hubungan komunikasi antar manusia, seperti dalam konteks mencari ilmu, kita membutuhkan adanya interaksi, agar ilmu yang ada pada orang lain dapat kita pelajari, dan ilmu yang ada pada diri kita dapat disalurkan kepada orang lain.

Hal yang menjadi bahan untuk dapat diinteraksikan kepada orang lain sifatnya bebas, kita dipersilahkan untuk mengembangkannya agar lebih maju dari sebelumnya, tetapi perkembangan tersebut harus sesuai dengan Syariat Islam, jika melanggarnya, maka lebih baik ditinggalkan. Berinteraksi lawan jenis juga ada batas-batasnya, Islam mengajarkan bahwa ikhwan dan akhwat harus menjaga aurat, menjaga pandangan, dan menjaga hatinya, terutama kepada mereka yang bukan muhrimnya, sehingga interaksi antara ikhwan dan akhwat tidak bisa dilakukan sebebas-bebasnya.

Di dalam Islam, diajarkan bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi muslimin dan muslimah, itu menandakan bahwa Islam tidak membedakan ikhwan dan akhwat berdasarkan gender, Islam memberikan hak yang sama kepada ikhwan dan akhwat dalam hal mencari ilmu, itu berarti bahwa Islam juga memberikan hak yang sama dalam hal pekerjaan, itu merupakan keadilan di dalam Islam. Tetapi dalam beberapa pekerjaan, akhwat tidak diperkenankan untuk melakukannya, karena itu bukan hal yang cocok untuk dilakukan akhwat, bukan berarti Islam membatasi pekerjaan akhwat, semua itu demi menjaga harkat dan martabat seorang akhwat.

Allah menurunkan Syariat Islam yang khusus kepada akhwat karena memang akhwat adalah sosok yang Istimewah, dan sosok yang istimewah juga harus diperlakukan dengan istimewah, agar keistimewahan tersebut tidak rusak karena perbuatan yang tidak baik, itu merupakan alasan mengapa Syariat Islam mengatur ketentuan akhwat dengan teliti. Kesucian seorang akhwat harus dijaga, karena Allah titipkan Generasi yang akan menjaga Agama Allah, Generasi yang akan membela Agama Allah, dan Generasi yang akan meninggikan Nama Allah, peda rahim seorang akhwat.